+6285753850838
Jalan Komp. Perumahan Ptb, Jl. Buaran Raya, Duren Sawit, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13640
admin@farkes.media

FARKES KSPI Tekankan Peran Semua Pihak dalam Penanganan Bahaya Asbes

Jakarta, 12 Desember 2025 — Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP FARKES R–KSPI) menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bekerja sama dengan APHEDA Australia pada Jumat, 12 Desember 2025, bertempat di Hotel Gren Alia, Jakarta. Kehadiran FSP FARKES R–KSPI dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen aktif organisasi dalam isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3), khususnya terkait bahaya asbes.

Sebagai federasi yang berafiliasi dengan KSPI, FSP FARKES R–KSPI menilai tema pertemuan mengenai danger of asbestos sangat relevan dengan kondisi ketenagakerjaan dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Asbes tidak hanya berdampak pada pekerja di tempat kerja, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang bagi masyarakat luas serta lingkungan sekitar.

Wakil Sekretaris Jenderal FSP FARKES R–KSPI, Siswo Darsono, menegaskan bahwa penanganan bahaya asbes membutuhkan peran aktif dan sinergi dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah, pengusaha, hingga pekerja.

Siswo Darsono, Wakil Sekretaris Jenderal FARKES - KSPI (Foto. Media KSPI)

“Regulasi yang sudah ada perlu segera diperkuat dan diperbaiki implementasinya. Mengingat dampak jangka panjang asbes yang sangat berbahaya bagi kesehatan, Indonesia harus serius menuju penghapusan total asbes,” tegas Siswo Darsono.

Tim FARKES pada Seminar Bahaya Asbes, yang hadir dari PUK Actavis Jakarta, DPC Bekasi dan DPD DKI Jakarta (Foto. Media KSPI)

Lebih lanjut, Siswo menekankan pentingnya peran serikat pekerja di tingkat perusahaan melalui PUK serta unsur K3 agar dapat bersinergi secara nyata dalam upaya pencegahan dan edukasi bahaya asbes. Menurutnya, kolaborasi dengan warga di sekitar kawasan industri juga menjadi kunci agar kesadaran terhadap bahaya asbes tidak hanya berhenti di lingkungan kerja, tetapi meluas ke masyarakat.

“Bahaya asbes bukan lagi persoalan individu atau sektor tertentu, melainkan sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Karena itu, diperlukan kerja bersama dan kesadaran kolektif untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *